Selama tiga minggu ini saya mengikuti sebuah diklat peneliti yang diselenggarakan oleh sebuah lembaga yang paling otoritatif dalam hal penelitian. Pada dua hari pertama, sebanyak 30 peserta menjalani sesi dinamika kelompok untuk membangun kelas yang kompak, nyaman, dan menyenangkan. Dalam salah satu subsesi, kami–dibagi ke dalam tiga kelompok (Kelompok Kuning, Kelompok Putih, dan Kelompok Oranye)–ditugaskan untuk menyajikan atraksi kelompok dalam bermacam-macam ekspresi seni (performing arts). Kelompok kami–Kelompok Putih–memilih membaca puisi dalam performance arts itu. Sebagai ketua kelompok, saya pun didapuk oleh teman-teman anggota kelompok untuk menulis puisi. Hobby saya memang membaca puisi, tetapi saya belum pernah menulis puisi. Jadi inilah puisi pertama yang saya tulis sendiri. Puisi ini bercerita tentang apa yang terjadi sehari sebelumnya dimana dalam sesi Dinamika Kelompok, kami “digojlok” oleh para fasilitator dengan berbagai permainan (games) yang menuntut kerjasama dan kekompakan kelompok. Kelompok kami kemudian membaca puisi secara teatrikal. Sungguh, saya tak menyangka kalau kami tampil mengesankan, padahal–sebagai peneliti–kami tak pernah “bermain-main” dengan seni, puisi, apalagi teater.
Si Putih, Sang Penata Harapan
Oleh Kang Asep
Me-ji-ku-hi-bi-ni-u
Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu
Itulah warna kita, itulah warna bangsa kita
Warna yang jika disatukan menjadi satu warna
Putih. Ya, putih
Ia adalah warna yang tak akrab dengan curiga
Ia adalah warna yang tak karib dengan prasangka
Ia adalah warna yang tak ramah dengan klaim-klaim
Putih adalah simbol naluriah kita
Putih adalah penanda kearifan kita
Ia adalah warna yang terbuka
Ia adalah warna yang rendah hati
Tak marah tatkala diolesi warna lain
Tak kecewa jika ditimpa warna lain
Karena ia putih. Ya, putih
Kemarin
Si putih berjuang untuk empat hal: kebersamaan, kerjasama, keceriaan, dan harapan
Tak ada yang lebih berguna dari empat hal itu
Karena empat hal itu kini tinggal kepingan
Di negeri pelangi, bangsa mejikuhibiniu kini sedang terlunta-lunta
langkahnya terseret-seret
oleh klaim tokoh-tokoh
yang bukan merupakan tokoh-tokoh
bajunya compang-camping
oleh prasangka yang menghancurkan kepercayaan
jiwanya koyak-moyak
oleh apriori yang membunuh harapan
Kemarin
Si Putih bangkit, bergerak, dan maju
Pelan, lambat, dan hati-hati
Sebab ia tak suka ketergesaan
Yang menghancurkan ketekunan
Sebab ia tak ingin kecepatan
Yang melenyapkan kesabaran
Sebab ia tak suka jalan pintas
Yang menihilkan proses
Sebab ia tak berminat dengan revolusi
Yang mengabaikan basis sosial
Meski pelan, lambat, dan hati-hati
Tapi si Putih tak pernah surut ke belakang
Ia terus merajut kebersamaan
Ia terus menganyam kerjasama
Dengan tali yang mengikat kekompakan
Dengan ember yang menampung kehangatan
Dengan bambu yang melempangkan jalan persahabatan
Dengan bola yang menggelindingkan keterbukaan
Dengan paralon yang menyimpan kerendahan hati
Dengan air yang menyerap ketulusan
Dengan ban karet yang mendekap kejujuran
Dengan ketekunan tak terperi
Dengan kesabaran tak berbatas
Sebab si Putih percaya
Kebersamaan tak perlu dibangun dengan kegaduhan
Kerjasama tak cukup didirikan dengan ingar-bingar
Itulah sebabnya si Putih tak menyukai teriakan yel-yel
Ia lebih suka gemericik air
Yang menenangkan hati
Itulah sebabnya si Putih tak perlu semboyan absurd
Ia lebih suka desir angin
Yang menyusup ke telinga
Gemericik air dan desir angin
Lebih tajam dari suara provokasi si Kuning dan si Oranye
Lebih peka dari peluit para fasilitator
Gemericik air dan desir angin
Menguatkan derap-derap langkah si putih
Untuk tetap satu, tetap padu
Ketika melangkah maju mundur, kiri kanan
Kebersamaan dan kekeluargaan
Pelan-pelan sedang dirajut dan dianyam
Untuk membangun kepercayaan
Untuk menata harapan
Meuni hade pisan kang pusisina…
Bangga sebagai sesama Asep.. Punten ach, nembe tiasa kunjungan balik.. ^_^
bhinneka tunggal ika, maju terus pantang mundur
Keren, meski aku nggak paham blas maksute opo, hehe
Masih amat terpatah-patah. Barangkali lantaran gaya yang digunakan masih penulisan puisi model lama (seperti menggunakan repetisi). Sifatnya yg repetitif itu mungkin yg amat kurang. Diksinya pun cenderung terlampau biasa karena tidak menggunakan metafor yang figuratif; tentu memang tak implisit, jadi di sanalah kekurangan nuansa “literary”-nya. Ah, semoga pembelajaran ini terus dilanjutkan!